URGENSI
STUDI FILSAFAT DALAM PENGEMBANGAN
PEMIKIRAN
ISLAM (TELAAH EPISTEMOLOGI)
==============================================
I.
PENDAHULUAN
Filsafat bertugas memahami realitas
untuk memahami esensinya, asasnya yang fundamental atau apa yang menjadi
substansi dasar dari segala realitas, segala yang ada. Upaya memahami realitas
diperlukan pemikiran yang mendalam, radikal dan sistematik. Di sini diperlukan
keinsafan berpikir. Insaf artinmya: teliti dan teratur menurut prosedur yang
jelas.
Islam
memberikan ruang bagi dinamika pemikiran yang melahirkan pemikiran filosofis.
Islam sebagai agama bukan semata fenomena sui-generis yang tidak dapat ditelaah
dengan sistem pemikiran dan filosof sepanjang sejarahnya. Tugas kita sekarang
adalah memelihara dan menelaah pemikiran-pemikiran filosofis para filosof
muslim masa lalu. Tetapi dalam telaah pemikiran tersebut bukan hanya dalam hal
konsep-konsep substansialnya saja, tetapi yang lebih penting adalah tata-pikir
yang digunakan dalam melahirkan konsep itu. Dengan hanya mewarisi konsep-konsep
kefilsafatan itu kita memang menjadi kagum dan bangga, tetapi kita tidak bisa
bersikap kritis untuk melakukan rekonstruksi pemikiran yang dibutuhkan untuk
saman sekarang. Inilah masalah yang kami pandang mendesak untuk direnungi oleh
generasi muslim dewasa ini.
II.
TINJAUAN SINGKAT PEMIKIRAN FILSAFAT DALAM ISLAM
Islam adalah agama yang mewajibkan
penganutnya menuntut ilmu pengetahuan. Al-Qur'an merangsang manusia agar
memanfaatkan segala instrumen pengetahuannya untuk memahami realitas. Al-Qur'an
memerintahkan pancaindera (sensual) melalui pengamatan empiris (observasi dan
eksprerimen) (Q.S.7: 179, 32:28, 10:68, 30:23 dsb.). Al-Qur'an juga
memerintahkan menggunakan akal dengan telaah rasional terhadap fenomena alam
(Q.S. 3:190-192 dsb.); disamping itu juga memerintahkan menggunakan intuisi
batin (Q.S. 7:171, 22:46). Jadi, Islam mengakui realitas empirik, rasional dan
supra-rasional, tidak mengenal yang irrasional.
Perintah-perintah al-Qur'an tersebut
di atas menanda-kan bahwa dalam tubuh Islam sendiri dapat menjadi sumber
lahirnya pemikiran filosofis untuk memahami esensi, memahami maksud ciptaan
Allah di alam semesta dan memahami maksud Allah dalam al-Qur'an. Umar bin
Khattab seorang pemikir dan khalifah kedua melahirkan pemikiran-pemirkan
sebagai hasil telaah terhadap realitas sosial dan berupaya menangkap maksud
Tuhan dalam al-Qur'an. Beliau menolorkan tidak kurang dari 70 buah pikiran
hasil ijtihadnya yang sudah berbeda jauh dari pemahaman masyarakat Islam sebelum-nya.
Banyak pemikir muslim pertama yang mampu menelorkan pemikiran-pemikiran berani.
Filsafat Islam berkembang pesat ketika
wilayah Islam meluas sehingga bersentuhan dengan budaya Persia, India, Mesir,
Yunani dsb. Budaya tersebut merangsang lahirnya filsafat dalam Islam yang
diwakili oleh al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.
Kecuali al-Ghazali, corak pemikiran mereka bersifat sinkritisme-kreatif antara
filsafat Yunani dan ajaran Islam. Filsafat tersebut banyak tertarik pada soal kosmologi,
asal usul alam semesta. Sayang sekali, pemikiran mereka sangat rasionalis-tik,
lebih menonjolkan telaah rasional dengan cara deduktif, baik dalam pemikiran
tentang alam semesta, pemaknaan ayat al-Qur'an maupun dalam penghayatan mistik.
Di
abad ke-10/11 muncul al-Ghazali mengeritik pemakaian rasio oleh al-Farabi dan
Ibnu Sina. Al-Ghazali mengerik habis-habisan kemampuan inderawi (empiri) dan
rasio (nalar) sebagai instrumen yang tidak mampu memahami realitas. Al-Ghazali
mengandalkan penghayatan intuitif (qalb) sebagai kekuatan satu-satunya yang
handal dalam menangkap realitas dan memakrifah Allah. Pandangan al-Ghazali
tersebut oleh sementara kalangan sebagai penyebab kematian pemikiran dalam
Islam.
Di abad ke-14 muncul Ibnu Khaldum (di
Spanyol) mengeritik filosof sebelumnya yang hanya mengandalkan rasio sebagai
alat pengetahuan yang absah. Ibnu Khaldum tidak mengandalkan rasionalitas yang
deduktif, tetapi cenderung pada pemakaian empiri yang induktif. Ia tidak
tertarik pada spekulasi metafisi dalam soal kosmologi penciptaan alam, tetapi
lebih tertarik pada realitas sosial dan historis. Dia seorang filosof sejarah
dan sosial yang sampai sekarang masih tetap dikaji pemikiran-pemikirannya oleh
sarjana Barat. Meskipun teori-teorinya tidak luput dari kritikan karena
menganut teori sejarah-siklus, tetapi pemikirannya banyak mempengaruhi pemikir
Barat seperti Toynbee. Madjid Fakhri menyebutnya sebagau seorang positivis
Islam karena lebih tertarik pada realitas sosial yang empiri sensual. Meskipun
dia juga tidak mengabaikan intuisi batin sebagai alat penghayatan mistik. Di
sini Ibnu Khaldum kelihatan dualisme dalam teori pengetahuannya.
Di masa kemudian (abad ke-18) metode
empiris lebih dikembangkan oleh Ibnu Taimiyah. Menurutnya, realitas yang
sesungguhnya adalah realitas yang ditangkap oleh empiri sensual (inderawi),
bukan oleh rasio. Muhammad Abduh muncul pada abad ke-19 juga sangat empiri di
samping rasional. Ia memadukan empiri dan rasio dalam pemikirannya. Fenomena
supernatural seperti malaikat ditafsirkan sebagai wujud yang non-personal
tetapi merupakan hukum alam.
Di abad ke-20 muncul Muhammad Iqbal
menggabungkan semua tata-pikir sebelumnya. Iqbal menghargai dunia empirik,
dunia rasional dan intuisi qalb. Penghayatan intuisi batin sebagai kristalisasi
dalam pengamatan empiris dan telaah rasional. Intuisi menangkap realitas secara
holistik berdasarkan input empirik dan
telaah rasional. Sayang sekali bahwa paradigma Iqbal tersebut tidak diperkokoh
dalam suatu bangunan epistemologi filsafat Islam secara utuh. Kami melihat
Iqbal sebagai seorang filosif humanis Islam karena sangat mengandalkan
kemampuan manusia (muslim) untuk bisa "menyamai" Tuhan dalam porsi
yang terbatas sebagaimana dalam teori Insan Kamilnya.
III.
PEMIKIRAN ISLAM KONTEMPORER
Dalam pengamatan kami, ada dua tema
pemikiran Islam kontemporer yang perlu mendapat perhatian intelektual muslim
dewasa ini, yaitu: Masalah esensi Islam dan konstruksi tata-pikir Islam yang
kreatif, inovatif dan religius.
1.
Masalah esensi Islam
Tema pemikiran Islam kontemporer tidak
seperti di era sebelumnya terutama pada era al-Farabi c.s. yang lebih terfokus
pada filsafat metafisika dengan spekulasi rasional mengenai penciptaan alam.
Tema di masa al-Farabi itu sebagai reaksi-kreatif-sikritik terhadap filsafat
Barat (Yunani, yaitu PLato, Aristo dan Neo-Platonis) dengan ajaran Islam.
Kini
filsafat Barat pun memberikan tantangan terhadap pemikiran Islam dalam hal
bagaimana esensi Islam itu. Barat memberikan kritikan-kritikan, bahwa Islam
adalah agama statis karena wahyu al-Qur'an tidak mempunyai hubungan organik
dengan sejarah. Wahyu adalah fenomena trans-historis karena diciptakan di luar
sejarah.
Sorotan Barat terhadap esensi wahyu
(sekaligus juga esensi Islam) dapat dimaklumi karena filsafat epistemologi
Barat hanya mengakui realitas empirik sensual, rasional dan historis. Dalam
teologi Kristen Barat memandang bahwa esensi agama Kristen bersifat historis.
Tuhan sudah "menyejarah" dalam diri Kristus. Demikian pula kitab
Bibel bukan sesuatu yang trans-historis. Walaupun Bibel disebu juga firman
Tuhan, tetapi dalam waktu yang sama dinyatakan sebagai karya manusia. Artinya,
karya manusia diperatasnamakan Tuhan karena roh kudus telah bekerja dalam
pikiran pengarangnya yang dengan sendirinya tidak lepas dari latar belakang
historis pengarangnya. Karena itu, Wilfred Cantwell Smith menyatakan bahwa
Bibel mempunyai hubungan organik dengan sejarah. Atas dasar itu, orang Kristen
merasa memiliki agama yang dinamis, dapat mengikuti perubahan dan kemajuan
dalam sejarah manusia.
Fazlur Rahman seorang pemikir Islam
kontemporer yang menghabiskan usianya di Amerika Serikat cukup merasakan
serangan-serangan Barat terhadap Islam berdasarkan pandangan di atas, bahwa
karena esensi Islam adalah trans-historis, maka Islam sukar menyesuaikan diri
dengan perkembangan. Sebagai respons terhadap kritikan Barat tersebut Rahman
mengajukan pandangan bahwa: "Al-Qur'an adalah firman Tuhan tetapi
sekaligus juga kata-kata Muhammad". Tesis tersebut cukup kontroversial.
Rahman memaksudkan bahwa al-Qur'an
sebagai firman Tuhan merupakan esensi, tetapi sifatnya yang berkali empat, tiga
atau enam, berwarna putih, biru, terbuat dari kayu atau besi adalah aksidensi.
Karena itu, tugas intelektual muslim menurut Rahma adalah menangkap esensi
informasi al-Qur'an. Esensi itulah maksud Tuhan yang sebenarnya. Esensi itu
mutlak, abadi dan universal. Aksidensi sebagai ekspresi Nabi Muhammad
berdasarkan wawasan keakraban dan wawasan historisnya hanya sebagai hal yang
sekunder walaupun juga turut membantu memahami maksud Tuhan.
W. Montgomery Watt seorang Islamolog
Barat -- sering dipandang sebagai pemberi inspirasi bagi Rahman -- juga
mengatakan bahwa al-Qur'an adalah firman Tuhan tetapi diciptkan melalui pribadi
Muhammad. Tetapi berbeda dengan Rahman, Watt berpendapat bahwa oleh karena ada
keterlibatan pribadi Muhammad dalam keberadaan al-Qur'an berarti ada elemen
manusiawi dalam al-Qur'an. Karena itu, terdapat kemungkinan adanya kekeliruan
dalam al-Qur'an. Rahman tidak memandang ada kekeliruan itu karena pribadi dan
moralitas Nabi Muhammad sudah menyatu dengan jiwa al-Qur'an, al-Qur'an sudah
menjadi akhlaknya.
Tesa Rahman tersebut masih dalam
posisi sulit, karena orang dapat berbeda melihat nama yang esensial dan mana
yang aksidensial dalam al-Qur'an. Orang pun bisa berselisih dalam melihat
esensi itu, mungkin yang satu memandang sebagai esensi yang lain tidak. Tesa
tersebut mengimplikasikan munculnya pemikiran pluralistik dalam Islam. Tetapi
pluralistik yang berakar pada pemaknaan esensial yang beraneka bukan tanpa
bahaya, karena pemaknaan esensial itu akan membentuk makna-makna lokal yang
dengan sendirinya membentuk opini-lokal. Terbentuknya makna esensial-lokal bila
dilihat dari perspektif Samuel P. Huntington nantinya akan berusaha memperkokoh
identitasnya. Pada sisi ini kami setuju dengan pendapat Huntington. Ketika
suatu kelompok berusaha memperkokoh identitasnya, akan timbul
penajaman-penajaman konseptual. Dalam penajaman konseptual akan terjadi
idealisasi konseptual. Idealisasi ini akan membentuk ideologi lokal. Ideologi
lokal akan mengakibatkan eksklusivisme yang memancing terjadinya komplik.
Apakah Rahman bermaksud demikian?
Tentu tidak. Rahman berprinsip bahwa kita tidak akan berselisih dalam menangkap
esensi ayat-ayat al-Qur'an bila terlebih dahulu kita menangkap secara global
cita moral al-Qur'an itu. Cita moral itu akan menjadi perspektif kita untuk
menangkap esensi-esensi setiap ayat al-Qur'an. Berarti Rahman pada hakikatnya
mengajui segi keuniversalan Islam.
Tesis lain yang kami pandang lebih
tepat dikemukakan oleh Umar al-Biqay, bahwa al-Qur'an bagaikan sebuah intan
yang tiap-tiap sudutnya memancarkan cahaya. Seorang dapat menangkap sinar dari
satu sudutnya, orang lain di sudut lain. Ini berarti esensi itu satu tetapi
segi-segi esensi itu banyak. Kita sama-sama berada di sentral tetapi berbeda
pada perifer. Ini berarti Islam menolak pluralisme mutlak yang disuguhkan oleh
postmodernisme. Islam tidak sentral dan tidak desentral. Islam adalah
sentral-perifer, universal-partikular, absolut-relatif, tekstual-kontekstual
dan trans-historis-historis.
2.
Membangun Tata-Pikir Islam
Kita telah kemukakan secara umum corak
epistemologi filosof muslim abad pertengahan dan modern. Epistemologi al-Farabi
bercorak resionalistik, al-Ghazali intuitif, Ibnu Khaldum, Ibnu Taymiyah dan
Abduh empirik plus rasionalistik. Muhammad Iqbal berangkat dari empirik ke
rasional ke intuitif.
Tugas
generasi intelektual muslim dewasa ini adalah membangun tata-pikir Islami yang
komprehensip sesuai dengan perkembangan masa dan antisipasi ke depan.
Berikut
ini dikemukakan tinjauan ragam tata-pikir tersebut di atas sebagai berikut:
a.
Rasionalistik
Epistemologi atau tata-pikir
rasionalistik tidak berangkat dari empirik-sensual melainkan dari kemampuan
akal-budi membangun abstraksi-abstraksi spekulatif, simplikasi atau idealisasi
terhadap fakta. Konseptualisasi-nya masih membuka kemungkinan pilihan lain
karena masih bersifat tentatif (sementara) kemudian diuji-maknakan lagi dari
berbagai alternatif konseptualisasi lain. Produk ilmu yang dihasilkan akan
padat konsep dan teori tetapi sangat miskin terapan. Produk teori banyak tetapi
kadang-kadang kita kesulitan menerapkan. Bila diterapkan dalam penalaran Islam,
kita akan sukar "membumikan" Islam dalam realitas sosio kultural.
b.
Empirik
Tata-pikir empirik bersifat induktif,
bertolak dari dunia konkrit untuk membuat generalisasi. Realitas empirik-sensual
diamati dan dieksperimen kemudian dicarikan korelasi satu salam lain, dilihat
hubungan kausal-linearnya serta hubungan interaktifnya. Karena tata-pikir ini
berangkat dari realitas konkrit maka produk ilmu yang dihasilkan akan padat
terapan tetapi terjadi pemiskinan teori. Kita lihat terapan tata-pikir ini
dalam psikologi. Psikologi mengalami stagnasi karena kekurangan teori.
Psikologi terhenti perkembangannya pada teori behabiorisme. Dalam sosiologi,
terhenti perkembangannya pada teori sosiologi fungsionalnya Talcott Parsons.
Dalam teori ekonomi terhenti pada teori Keynesian. Bila diterapkan pada ilmu
agama akan menghasilkan ilmu agama sekular, tidak melihat "jiwa"
agama tetapi pada tubuh luarnya karena landasan tata-pikir ini berakar pada empiri-sensual.
c.
Intuitif
Metode intuitif sukar diterapkan dalam
stusi ilmiah karena kebenarannya sukar dikontrol, sukar dicek di dunia konkrit.
Meskipun demikian, cara intuitif digunakan juga oleh Husserl untuk
pemaknaan-pemaknaan atas dunia. Fakta-fakta ditangkap secara holistik lalu
dimaknai sesuai dengan weltanschauung kita.
Ketiga
tata-pikir tersebut di atas mempunyai keistimewaan dan kekurangan
masing-masing. Al-Farabi misalnya, meskipun telah berhasil secara rasional
menjelaskan teori penciptaan alam, tetapi teorinya sukar diaplikasikan dalam
dunia konkrit. Untuk merelevansikan dengan teori-teori modern hanya bisa
dilakukan analogi-analogi.
Ibnu
Khaldun mengakarkan pemikirannya pada dunia empirik melalui realitas sosial,
politik, sejarah dan geografi, kemudian melakukan konseptualisasi teoritik
(dengan sendirinya juga rasionalistik).
Muhammad
Iqbal berangkat dari empirik ke rasional ke intuitif memperlihatkan suatu
tata-pikir yang lebih kompleks. Tetapi Iqbal hanya menggunakan jalur gradual
tidak sebaliknya yaitu degradual, yaitu dari intuitif turun ke rasional turun
ke empirik. Dalam hemat kami, kedua jalur tersebut dapat digunakan. Bila kita
menggunakan jalur pertama; kita melakukan riset dengan observasi dan eksperimen
dan teknik-teknik lainnya. Hasilnya dibangun konsep-konsep dan teori-teori dan
seterusnya diberi makna-makna religius sehingga dihayati oleh intuisi iman
kita. Einstein menggunakan tata-pikir ini. Mulanya dia seorang ilmuan dengan
risetnya di bidang Fisika. Ia kemudian menjadi filosof ketika berhasil
membangun teori ontologonya bahwa asas segalanya adalah "energi",
kemudian masuk ke kawasan religius ketika mengatakan bahwa sumber segala energi
adalah sebuah energi yang "dahsyat" yaitu Tuhan. Di sini dia
menghayati Tuhan secara intuitif dalam temuan penyelidikannya.
Untuk
jalur kedua kita berangkat dari suatu nilai agama yang telah dihayati oleh
intuisi iman kita. Melalui nilai agama itu kita bawa ke dalam dunia obyektif,
dengan diobyektivikasikan melalui konseptualisasi. Dari konseptualisasi itu kita
dapat membangun suatu grand-konsep. Grand-konsep itu kita bawa ke kawasan
empirik. Temuan empirik bertujuan memperkokoh grand-konsep (rasionalisasi) dan
grand-konsep bertujuan memperkokoh nilai agama itu. Apakah ini berarti
normatif? Bisa normatif nila nilai agama secara langsung dijadikan alat koreksi
dan justifikasi realitas empirik. Tetapi bila dari nilai agama terlebih dahulu
dibangun suatu grand-konsep lalu dimuarakan ke kawasan empirik, maka kita tidak
normatif.
Dalam hemat kami, bila kedua jalur itu diterapkan
akan memproduksi ilmu-ilmu bermuatan Islami.